Urgensi Sejarah Bagi Para Pengemban Dakwah

Share the idea

“Kita Belajar Dari Sejarah Bahwa Kita Tak Pernah Belajar Dari Sejarah”.

Goerge Bernard Shaw (1856 – 1950), Novelis, Kritikus, Dan Politikus Irlandia

Le histoire se repete, Sejarah akan terulang. Demikianlah kaidah yang senantiasa sampai kepada kita. Dikatakan berulang-ulang karena memang begitu faktanya. Betapa banyak bukti yang sampai kepada kita akan peristiwa masa lampau yang kembali terjadi di masa sekarang. Sekali lagi, karena memang begitulah faktanya, fakta bahwa sejarah selalu mengulangi dirinya sendiri.

Mempelajari sejarah menjadi teramat penting agar kita dapat mengambil langkah untuk maju ke depan. Berbekal berbagai peristiwa sejarah, kita dapat sukses menjalani perjalanan menuju peradaban gemilang yang sejak lama kita impikan.

Kita perlu meluruskan niat kita dalam mendalami sejarah. Bukan sekedar iseng menjadikan sejarah itu sebagai dongeng pengantar tidur, tapi hanya karena Allah. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kita untuk mengambil ibrah dari kisah umat-umat dan bangsa-bangsa di masa lampau. Karena sungguh, di balik kisah mereka ada pelajaran untuk orang-orang yang berakal. Sebegitu pentingnya sejarah, sampai-sampai sepertiga isi dari al-Qur’an adalah sejarah. Betapa banyak konten sejarah yang bisa kita dapatkan dari Kitab Yang Mulia yang diturunkan langsung dari langit ketujuh ini.

Dari kisah-kisah sejarah yang nyata dalam Al-Qur’an tersebut, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam banyak mendapat pelajaran dan strategi untuk membangun peradaban emas di tanah tandus kering kerontang yang kebanyakan berisi manusia buas, Jazirah Arab. Betapa drastis perubahan yang terjadi di sana semenjak revolusi tauhid yang digalakkan oleh Sang Nabi menyapu habis kebodohan dan kesempitan di Tanah Arab. Namun, Islam bukanlah Rahmatan lil ‘Arabiyyah semata, namun ia adalah Rahmatan lil ‘Alamin, untuk sekalian semesta. Maka revolusi itu pun menyebar, meluas, dan mengakar, mulai dari pantai selatan Maroko hingga ke tanah subur Jawa. Mulai dari tanah bersalju Ukraina, sampai ke savana Ethiopia. Wilayah yang sedemikian luas itu, dimakmurkan dan disatukan oleh akidah yang satu, kepemimpinan yang satu, bendera yang satu, dan perasaan yang satu. Ialah Islam, yang terbingkai dalam institusi Khilafah.

Kekuasaan yang paling awet sepanjang sejarah itu begitu gemilang, sampai ia menjadi matahari kehidupan bagi dunia. Jadilah ia mercusuar yang menyorotkan sinarnya kepada bangsa-bangsa lain yang masih berada dalam gulita. Seperti contoh, bagaimana terperangahnya Charlemagne, sang penguasa bangsa Frank di Eropa ketika ia dihadiahi sebuah jam oleh Khalifah Harun al-Rasyid. Charlemagne mengira ada jin yang bersemayam dalam jam, sehingga jam tersebut dapat menggerakkan jarumnya menunjukkan angka waktu. Padahal kita tahu bahwa teknologi-lah yang menggerakan jam itu. Sebuah kesenjangan peradaban yang sangat jauh, ketika dalam waktu yang sama Eropa mengalami dark age, sementara di saat yang sama Islam sedang menikmati golden age.

Ilustrasi ketika Charlemagne menerima jam dari Harun al-Rasyid. Lukisan Claudius Saunier, 1903. Sumber gambar: https://muslimheritage.com/journey-of-automatic-machines/

Namun, semua itu telah menjadi romantisme sejarah. Semua itu hanya masa lampau. Semenjak Khilafah yang agung itu diruntuhkan sehancur-hancurnya pada 3 Maret 1924, maka kaum Muslim seakan menjadi tong sampah dunia. Semua hal jelek ada pada umat dengan jumlah penganut terbanyak kedua di dunia tersebut. Umat Islam tertinggal dalam teknologi, terpuruk dalam peradaban, bertengkar antar sesama umat Islam, negeri-negeri nya pun dijajah secara fisik dan politik. Lengkap sudah! Ibarat roda, maka umat Islam sedang berada di posisi bawah. Terlindas, ternista, terbawah, dan bergumul dengan kotoran.

Namun, kembali pada kaidah awal. Bukankah sejarah akan senantiasa terulang? Roda yang sedang di bawah itu akan berputar kembali ke posisi atas. Hal ini terbukti, dengan makin banyaknya orang-orang yang kembali kepada Islam, bahkan menyadari akan urgensi keberadaan Khilafah, dan akhirnya turut berjuang untuk menegakkannya. Perjuangan untuk mengembalikan sejarah yang wangi ini akan berhasil, dan anak cucu kita kelak akan berkata, “leluhurku berperan dalam kebangkitan Islam! Aku adalah keturunan pejuang Islam!” []

Sumber :

Imam As-Suyuthi. 2001. Tarikh Khulafa’: Sejarah Para Penguasa Islam. Pustaka Al-Kautsar: Jakarta.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *