Beban Berat Para Pejabat

Share the idea

Penulis: Ayu Paranitha

Kebanyakan dari kita mungkin sering terjebak dalam kebiasaan, membaca Alquran tanpa merasakan betapa setiap pilihan katanya sangatlah hidup dalam realita. Mengaji lebih terasa seperti rutinitas hingga kita sering lupa untuk melakukan refleksi.

Sekitar satu semester berlalu, bangsa ini masih belum berhasil keluar dari pandemi. Kita pun disuguhkan dengan perdebatan di kalangan elit, manakah yang lebih utama untuk diselamatkan: kesehatan ataukah ekonomi? Tarik ulur tak berujung, hingga keduanya tak berhasil diselamatkan dengan segera.

Peristiwa inilah yang mengingatkan penulis pada kajian tafsir surat Al-Ma’un yang disampaikan oleh ustadz Nouman Ali Khan. Beliau mengatakan bahwa surat ini adalah surat yang sangat sharp, intelligent, uncompromising, and unapologetic. Menyerang langsung praktek korup yang melanda Mekkah pada saat itu.

Hal yang juga perlu kita ingat adalah, pada saat itu Rasulullah bukanlah termasuk elit politik. Apa yang beliau sampaikan tentu menjadi tamparan keras, yaitu sekumpulan kritik yang ditujukan langsung kepada para tokoh masyarakat. Tindakan yang sangat berisiko yang sudah tentu membutuhkan kepercayaan penuh hanya kepada Allah.

Bahkan kita pun bisa mengaitkannya dengan realita saat ini. Berapa banyak tokoh yang “hilang” karena menjadi oposisi penguasa?

Pada masa itu di antara kelompok masyarakat yang paling riskan menghadapi ketidakadilan adalah golongan yatim. Orang-orang Mekkah terbiasa tidak memberikan waris kepada perempuan dan anak-anak. Mereka yang tidak memiliki kabilah pelindung. Orang-orang yang sendirian dan lemah.

Siapapun bisa menyiksa mereka dan memukul mereka. Jika tidak ada seorangpun yang menolong, maka tidak akan ada golongan yang melawan para penindas.

Allah ta’ala berkata kepada Rasul-Nya

أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

Siapa yang diseru di dalam dalam surat ini?

فَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَ

Itulah orang yang menghardik anak yatim,

Siapapun yang merasa bersalah yang merasa mendustakan agama, menolak anak-anak yatim, tidak memberi makan orang-orang miskin.

Coba dudukkan posisi kita pada posisi Rasulullah dan para sahabat pada saat itu. Kita bisa membayangkan, Alquran tidaklah turun dan dibacakan dalam forum pembelajaran. Akan tetapi, Alquran dibacakan di hadapan orang-orang.

Setiap ayat yang dibacakan akan terasa menyerang para pemimpin masyarakat pada saat itu. Lalu hasilnya? Intimidasi kepada kaum muslimin yang menyebarkan pemikiran Islam.

Namun, inilah realita dari masyarakat. Allah mengkritik siapa saja yang berbuat kejahatan dan menunjukkan kejahatan mereka beserta ide-ide mereka yang cacat.

Pada ayat ke-3 surat ini Allah ta’ala berfirman

وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ

dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

Jika ayat sebelumnya terkait dengan kehidupan personal mereka, maka ayat ini secara langsung menyerang reputasi publik yang sudah lama mereka bangun. Orang-orang ini para pemimpin Quraisy yang diantaranya adalah Abu Lahab.

Mereka memiliki peran untuk mengelola aset kabilah. Mereka seharusnya memiliki kewajiban untuk menolong orang-orang yang lemah, tetapi mereka tidak melakukannya.

Allah mengungkap psikologi orang-orang kaya yang korup. Para politisi yang lebih memilih melindungi orang-orang kaya dibandingkan orang-orang lemah.

Kita pun menyaksikannya hari ini. Entah itu pada saat krisis moneter, krisis keuangan global, bahkan dalam musibah yang menimpa kita hari ini. Elit politik lebih memilih menolong para pemilik modal dibandingkan rakyat kecil. Negara lebih senang menyubsidi pengusaha dibandingkan rakyat.

Karena orang-orang kaya-lah yang men-support elit-elit politik, sedangkan orang-orang miskin tidak memberi manfaat terhadap kekuasaan mereka. Maka mereka tidak menolong orang-orang miskin, tidak pula mengajak orang-orang untuk menolong mereka. Kenapa? Karena inilah logika kekuasaan.

Dalam surat ini, Allah tidak menggunakan kata مَسَاكِينُ

bentuk jamak dari kata مِسْكِين

Jangankan menolong banyak orang miskin. Satu saja mereka pun tidak peduli.

Subhanallah. Mungkin inilah sebabnya kenapa kekufuran selamanya tidak bisa menerima Islam. Karena kekufuran tidak menghendaki adanya keadilan.

Sekalipun setiap insan memiliki sense of justice, tapi ego mereka menolaknya.

Life is but a walking shadow. Begitu kata Shakespeare. Hidup itu hanyalah bayangan yang berjalan. Kita ini hanya mengikuti pola pola hidup manusia yang mendahului kita.

Maka kehidupan siapakah yang kita ikuti? Apakah jalan para nabi yang diberkahi atau justru jalan iblis, Fira’un, Samiri dan Qarun?[]

Sumber:

Tafsir Al Kabir, Imam Ar-Razi, Juz 32, Hal 111

Tafsir maudhu’i juz 9 halaman 375

Zadul Masir fii Ilmit Tafsir, Ibnu Jauzi, hal. 1594

Kajian Nouman Ali Khan di https://bayyinahtv.com/

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *