Mengapa Peran Islam dan Khilafah Tak Banyak Disebut dalam Sejarah Indonesia?

Share the idea

Nusantara, kawasan berisi ribuan pulau yang dihubungkan dengan laut dan sejak berabad silam telah menjadi jalur perdagangan internasional strategis yang mudah dijangkau dunia luar. Tak heran jika wilayah ini mendapat banyak pengaruh dari peradaban sekitarnya, seperti Eropa yang direpresentasikan oleh Belanda, Portugis dan Inggris. Alih-alih memberi manfaat, kedatangan mereka justru menghancurkan tatanan kehidupan karena sikap serakah demi mengeksploitasi sumber daya alam. Meski eksistensi mereka buruk, anehnya banyak disebut dalam pembahasan seputar sejarah Indonesia.

Padahal selain mereka, ada juga orang-orang Turki yang memberi pengaruh bagi Nusantara. Berbeda dengan Eropa yang menjajah, Turki hadir dengan memberi manfaat signifikan. Sayangnya, eksistensi orang Turki (yang saat itu menjadi Kekhilafahan) tak banyak disebut dalam sejarah Indonesia.

Hal ini disebabkan oleh metode penulisan sejarah di Indonesia. Sejarah Indonesia yang pada masa-masa sebelumnya terasa Belanda-sentris, saat ini telah disusun oleh para sejarawan Indonesia agar menjadi Indonesia-sentris.

Belanda-sentris (Nerlandocentris) adalah proses penulisan sejarah yang sistematika penulisan, tujuan, dan gunanya untuk kepentingan Belanda. Penulisan model baru ini diharapkan memberi informasi sejarah yang memihak bangsa Indonesia. Meski dianggap membawa perubahan, namun tetap saja ada kesamaan dari yang sudah pernah ada, yakni sejarah ditulis dengan menihilkan peran Islam dan orang Islam dalam perjalanan sejarah Indonesia, termasuk mengenai jejak khilafah di Nusantara.

Misalnya dalam buku Sejarah Nasional Indonesia (yang menjadi rujukan mata pelajaran sejarah dengan tebal sampai 6 jilid ini) menulis kontribusi Utsmani hanya dalam beberapa paragraf saja.

Tidak ada pembahasan jejak khilafah di Nusantara kecuali penyebutan kisah pengiriman armada perang oleh Turki Utsmani yang disertai tentara elit lengkap dengan para ahli pembuat senjata ke Aceh guna menghadang kekuatan Portugis di selat Malaka pada abad ke-16 (Masa kepemimpinan Sultan Salim II).

Penulisan itu pun bahkan sebenarnya tidak dijelaskan dalam persfektif yang tepat, bahwa Turki sejatinya adalah Khilafah yang membantu suatu kekuasaan di timur yang pada saat itu telah menyatakan ketundukannya sebagai bagian dari Kekhilafahan di Istanbul. Oleh karena itu tidak berlebihan apabila muncul anggapan bahwa memang ada upaya mengubur dan mengabur sejarah khilafah di Nusantara.

Metode penulisan ini terus berlangsung turun termurun dalam pendidikan sejarah Indonesia. Walhasil, tak ada tantangan terberat dalam memahamkan sejarah selain karena minat masyarakat yang rendah terhadap sejarah.

Umumnya penjelasan tentang sejarah Indonesia hanya ‘dicekoki’ di bangku sekolah, itu pun dengan persepektif bermasalah seperti yang telah disampaikan. Padahal jika masyarakat berminat dan ingin proaktif mencari pembanding informasi, maka hal tersebut bisa didapatkan. Hal ini terbukti dengan banyaknya sejarawan belakangan yang menguak melimpahnya jejak khilafah di Nusantara.

Giancarlo Casale, seorang sejarawan dari Eropa misalkan telah membahas kehadiran Turki Utsmani di selat Malaka pada abad ke-16 secara detail. Dalam bukunya The Ottoman Age of Exploration, ia menjelaskan motivasi religius dan politis Turki Utsmani (yang kala itu telah menjadi Kekhilafahan Islam) seperti untuk menguatkan pengaruhnya ke arah Samudra Hindia (termasuk Nusantara). Berkat kedatangan bantuan dari Turki, Kesultanan Aceh akhirnya berhasil mengusir secara telak kekuatan Portugis yang telah bertahun-tahun menguasai Malaka.

Keberhasilan Turki ini tak lepas dari pengakuan bangsa lain bahwasannya Turki adalah Khilafah Islam yang berhak memimpin dan mampu membebaskan mereka dari kelaliman orang-orang Eropa.

Casale menegaskan, bahwa masyarakat di sekitar Samudra Hindia dari Tanduk Afrika hingga Nusantara memberi pengakuan yang serius terhadap posisi Turki sebagai Khilafah Islam. Bahkan, namanya disebut-sebut dalam khutbah Jumat oleh umat Islam di kawasan tersebut.

Fakta-fakta baru tentang Jejak Khilafah di Nusantara semakin terkuak setelah banyak arsip Kekhilafahan Turki Utsmani yang dipublikasikan ke umum. Pada 2017, penerbit Hitay dari Istanbul mempublikasi buku yang berisi kumpulan arsip yang dimaksud. Alhasil, menjadi semakin jelaslah gambaran tentang relasi antara Turki dengan Indonesia dan seberapa besar pengaruh Kekhilafahan ini di Nusantara.

Banyak arsip menyebut tentang pamor Turki yang mentereng bagi orang Indonesia serta kedudukannya sebagai Khilafah yang diharapkan hadir di Nusantara untuk melawan penjajah. Misalkan arsip BOA, HR.TO, 390/87 menyebut petisi yang berisi permohonan bantuan orang-orang di Nusantara kepada khalifah untuk menghadapi penjajahan. Permohonan tersebut berbunyi:

Kami membawa petisi mewakili orang Aceh-Jawa, yang telah berjuang melawan pasukan Belanda selama 14 tahun, dan berkeinginan untuk mendapat tempat berlindung di Kekhalifahan.

Kami telah berperang dan mengorbankan nyawa serta hartanya melawan para musuh yang telah berusaha menginvasi negara mereka namun tidak berhasil karena bantuan Allah…”

“…Sayangnya, karena kami jauh dari negara maju, kami tidak mendapatkan perlindungan. Oleh karena itu, kami merasa putus asa dan memutuskan untuk mencari perlindungan di salah satu negara maju. melalui agama, maka kami sangat ingin mencari perlindungan di salah satu negara maju.

Akan tetapi, jarak di antara kami membuat hal ini mustahil. Dengan segala rasa putus asa, kami mendengar bahwa Kekaisaran Turki Utsmani memiliki wazir di Mekkah dan karena kami telah terikat dengan kekhalifahan lindungan di Kekhalifahan dibandingkan tinggal negara lainnya.

Kami mengirim petisi ini untuk diserahkan kepada Pemerintahan Turki Utsmani melalui beberapa utusan kami, yang pergi ke Mekkah untuk melaksanakan haji. Kami ingin memberitahukan Sultan Utsmani tentang kondisi kami ini. Sehingga kami menunggu bantuan Sultan untuk membantu pasukan kami memertahankan kerajaan ini hingga titik penghabisan.

Kami menulis petisi ini karena kami tahu bahwa kekaisaran Turki Utsmani tidak akan membiarkan negara-negara Muslim terpada untuk diserang.”

Bagi orang-orang di Nusantara, Kekhilafahan Turki Utsmani memiliki reputasi yang berkebalikan dengan bangsa Belanda yang menjajah. Turki justru mendorong agar saudara mereka di Nusantara dapat terbebas dari penderitaan akibat dijajah bangsa lain. Tidak ada persepsi negatif terhadap Khilafah. Yang ada, justru pengagungan dan harapan agar Turki bisa membantu mereka untuk melawan penjajah.

Memasuki abad ke-20, tak ada lagi bantuan militer yang dikirim secara formal sebagaimana sebelumnya. Meski begitu, nasib rakyat Nusantara yang sedang terjajah tetap mendapat perhatian Khilafah. Berbagai usaha diplomatik dilakukan, seperti membangun kantor konsulat di Batavia dan Singapura.

Tidak hanya itu, Turki bahkan sampai berusaha mengintervensi Inggris agar mau menekan Belanda untuk menghentikan penjajahan di Nusantara. Tentang yang terakhir ini terekam dalam arsip BOA, Y.MTV, 263/63. berupa surat diplomasi antara Turki dan Inggris. Surat bertanggal 3 Agustus 1904 tersebut dikirim oleh Konsulat Jenderal Turki di London ke sekretaris pribadi Khalifah.

Dalam surat dinyatakan, bahwa Khalifah meminta kepada Inggris agar memberi anjuran kepada Belanda untuk menghentikan kelalimannya di Nusantara. Turki sangat paham Belanda telah bertindak semena-mena dan brutal terhadap umat Islam di Jawa. Namun Inggris dengan penuh rasa penyesalan tidak bisa memenuhi permintaan terebut karena tidak jelasnya hak otoritas Inggris untuk campur tangan dalam hal ini.

Jelaslah, bahwa Khilafah peduli dengan kondisi di Nusantara. Ikatan aqidah Islamiyah dan eksistensi politik sebagai Khilafah Islam telah mendorong mereka untuk peduli kepada masyarakat yang berada di daerah yang sangat jauh dari pusat pemerintahan di Istanbul ini. Meski telah menunjukkan tanda-tanda kemunduran, Turki masih memiliki kharisma yang kuat di mata negara-negara Eropa, hingga memanfaatkan posisi diplomatiknya untuk membantu saudara muslim mereka. Turki juga memiliki reputasi yang baik dalam pandangan umat Islam di Nusantara. Jejak Khilafah di Nusantara adalah soal kisah kepedulian umat Islam di Timur Tengah kepada saudaranya yang ada di Nusantara dalam hal dakwah, solidaritas ukhuwah Islamiyah, dan perjuangan militer serta diplomatik. Jejak-jejak yang sampai saat ini masih terkubur dan terkaburkan dalam Sejarah Indonesia.[]

Sumber:

Bruinessen, Martin van. “Muslim of the Dutch East Indies and The Caliphate Question”, dalam Studia Islamika, Vol 2, No. 3, 1995,  hlm. 115-140.

Casale, Giancarlo. The Ottoman Age of Exploration. New York: Oxford University Press, 2010.

Poesponegoro, Marwati Djoened (ed.). Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1990.

Reid, Anthony. “Sixteenth Century Turkish Influence in Western Indonesia”, dalam JSTOR, Vol. 10, No.3, 1969, hlm. 395-414.

Ricklefs, M. C.. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta: Serambi, 2008.

Terzi, Mehmet Akif (ed.). Turki Utsmani-Indonesia: Relasi dan Korespondensi Berdasarkan Dokumen Turki Utsmani. Istanbul: Hitay, 2017.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *