Bisakah Testimoni Dipercaya Sebagai Uji Keampuhan Obat?

Share the idea

Meski mayoritas menggunakan bahasa inggris, membaca artikel penelitian saat ini menjadi hal sederhana dan mudah. Namun, apakah cukup dengan hanya pandai berbahasa semua ilmu pengetahuan secara praktis dapat dimengerti oleh awam? Nyatanya tidak.

Setiap bidang tentu memiliki standar keilmiahan, termasuk dalam suatu penelitian. Bidang kesehatan yang berkaitan erat dengan manusia pun memiliki standar yang ketat tentang penelitian dan bagaimana mengambil keputusan dalam suatu kejadian atau tindakan berdasarkan berbagai penelitian yang ada. Terkait hal itu, dalam dunia kesehatan dikenal sebuah istilah khas yang disebut Evidence Based Medicine (EBM), yang secara sederhana didefinisikan sebagai suatu metode pengambilan keputusan dengan membandingan kejadian dengan bukti yang valid yang mengacu pada piramida studi. 

Piramida studi ini ibarat sebuah alat ukur yang dijadikan satu pegangan dalam menghasilkan rekomendasi yang lebih disarankan. Piramida studi dapat dilihat pada gambar berikut:

Ketika mengambil suatu keputusan, seorang dokter, apoteker, perawat, atau tenaga kesehatan lainnya secara ideal harus merujuk pada alat ukur ini. Secara sederhana, cara membaca piramida ini adalah, “semakin tinggi tingkatan, maka semakin spesifik dan valid buktinya, sehingga kondisi sebenarnya yang terjadi pada tubuh manusia akan semakin akurat.”

Artinya, bila dalam suatu kasus yang sama terdapat beberapa hasil studi dengan tingkat yang berbeda, maka bentuk studi yang lebih atas secara otomatis akan lebih diyakini kebenarannya. Oleh karena itu, hasil studi dengan tingkatan yang lebih tinggi itulah yang harus dijadikan sebagai dasar atas sebuah keputusan, bukan yang lain.

Secara sederhana, metode ini menjelaskan bahwa opini para ahli bila tanpa didasari oleh suatu studi, dapat dikategorikan sebagai “expert opinion”, yang dalam piramida studi letaknya berada di bawah dan satu tingkat di atas uji pra klinis (yang menggunakan hewan sebagai subjek uji).

Artinya, bila terdapat hasil penelitian lain (dalam bidang kajian yang sama) namun memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari tingkatan “expert opinion” pada piramida studi dan memiliki hasil yang berbeda dengan hasil “expert opinion” tersebut, maka argumen opini para ahli terpatahkan dan tidak dapat dijadikan sebagai dasar argumen. EBM adalah sebuah standar yang umum digunakan dalam ilmu kesehatan, telah disepakati oleh para ahli, dan menjadi sebuah pakem keilmuan tersendiri.

Lantas, bagaimana dengan adanya berbagai testimoni yang dengan mudah dipercaya oleh masyarakat dan hampir selalu digunakan sebagai “lip service” untuk mengukur keampuhan obat-obat herbal?

Jika mengacu pada piramida studi tersebut, maka jawabannya pun sudah jelas. Setingkat “expert opinion” saja akan diacuhkan bila berbeda dengan hasil studi di atasnya, apalagi testimoni dari seorang awam yang bahkan tak mengerti sama sekali terkait obat-obatan dan bagaimana sistem kerja tubuh. Berbagai testimoni tersebut tentu tidak sah digunakan dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Inilah kaidah yang perlu kita pahami dan ketahui tentang bagaimana para tenaga kesehatan bekerja. Hal ini bermakna, bahwa berbagai tindakan haruslah didasarkan pada bukti, bukan testimoni atau muncul dari perasan-perasaan yang tidak berdasar.

Wallahu a’lam[]

Referensi Terkait EBM:

https://ebm.bmj.com/content/21/4/125
Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *