Mengapa Kapitalisme Dapat Melanggengkan Penguasa Korup?

Share the idea

Agar lebih memahami keberlangsungan praktik politik busuk Kapitalisme, sudah selayaknya kita memperhatikan sikap politik Amerika Serikat (AS) dalam melaksanakan strategi politik luar negerinya untuk mengontrol dunia, khususnya negara dunia ketiga.

Noam Chomsky dalam bukunya, “How the World Works” menuliskan bagaimana AS telah menjadikan negara dunia ketiga, sebagai negara yang akan “memenuhi fungsi utama mereka sebagai sumber bahan mentah dan pasar” bagi masyarakat industri kapitalis, sebagaimana mandat dalam memo Departemen Luar Negeri AS pada tahun 1949. Negara Dunia Ketiga berfungsi untuk “diekspolitasi” demi rekonstruksi Eropa dan Jepang. Tentu, sikap politik seperti itu bukanlah sikap politik yang adil, apalagi mengharapkan turunnya kebaikan di alam raya.

Politik Ideologi Kapitalisme yang busuk ini dijalankan dalam sistem pemerintahan yang khas, yaitu sistem politik demokrasi. Ternyata, bila kita merujuk pada diskursus perpolitikan, ada dua makna yang perlu dipahami. Pertama adalah makna literal sesuai kamus, dan yang kedua adalah makna yang berguna untuk melayani kekuasaan-yakni makna doktrinal. Itu pula yang disampaikan oleh Noam Chomsky, mengenai arti dari istilah demokrasi.

Menurut makna common sense, sebuah masyarakat dapat dikatakan demokratis bilamana rakyat dapat berpartisipasi penuh mengatur hubungan-hubungan mereka. Namun, makna doktrinal demokrasi sama sekali berbeda. Ternyata, demokrasi merujuk pada sistem yang menjadikan keputusan dibuat oleh bisnis dan elit-elit politik terkait. Masyarakat hanyalah “para penonton aksi” dan bukan “partisipan”. Akhirnya, masyarakat hanya diperkenankan meratifikasi keputusan terbaik pada elite dan memberi dukungan, tetapi tak boleh ikut campur dalam persoalan yang bukan urusan mereka, seperti kebijakan publik.

Ideologi Kapitalisme bahkan sarat akan permainan sektor ekonomi. Joseph E. Stiglitz (sosok pemenang Nobel Ekonomi yang menentang keras para banker dan pelaku bisnis keuangan di AS) dalam tulisannya di Vanity Fair menyatakan bahwa di AS, hanya 1 persen elite yang menguasai tak kurang dari 40 persen kekayaan negeri AS.

 Di sisi lain, angka rasio gini (sebagai tolak ukur kondisi ketimpangan ekonomi) di Indonesia per Maret 2019 lalu berada pada posisi 0,382. Meski turun 0,002 poin dari tahun sebelumnya (September 2018), namun hingga Maret 2019 pemerintah Indonesia mendefinisikan garis kemiskinan dengan perdapatan per bulan (per kapita) sebanyak Rp. 425,250. Dengan demikian, standar hidup “layak” masyarakat Indonesia hingga hari ini sangatlah rendah.

Situasi di Afrika bahkan lebih buruk lagi. Bencana kapitalisme terasa sangat parah terutama pada 1980-an. Sebuah “mimpi buruk yang tak kunjung usai” di berbagai wilayah kekuasaan Barat, demikian istilah yang sangat tepat yang dicetuskan kepala Organization of African Unity. World Health Organization memperkirakan bahwa sebelas juta anak meninggal saban tahun di negara-negara berkembang, sebuah tindakan genosida diam-diam yang bisa segera diakhiri jika sumber daya digunakan untuk kebutuhan rakyat banyak, alih-alih untuk memperkaya segelintir orang.

Di tengah gaya hidup gila-gilaan yang dilakukan oleh segelintir orang superkaya dekade ini, kebusukan politik ekonomi Kapitalisme yang dilakukan Amerika juga disampaikan oleh seorang Economic Hit Man (EHM), John Perkins. Dalam bukunya yang berjudul, “Confenssion of an Economic Hit Man”, John Perkins menuturkan,

Apakah ada seseorang di Amerika Serikat yang tanpa dosa? Walaupun mereka yang berada di puncak piramida ekonomi memperoleh yang paling banyak, berjuta-juta dari kami bergantung –baik secara langsung maupun tidak langsung– pada eksploitasi negara-negara terbelakang untuk mata pencarian kami. Sumber daya dan tenaga kerja murah yang memberi makan hampir semua bisnis kami berasal dari tempat-tempat seperti Indonesia, dan sangat sedikit yang dikembalikan ke sana. Pinjaman bantuan luar negeri memastikan bahwa anak-anak hari ini dan cucu mereka akan dijadikan sandera. Mereka akan harus membiarkan korporasi kami menjarah sumber daya alam mereka dan akan harus mengorbankan pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial yang lain hanya untuk membayar kami kembali.

Fakta bahwa perusahaan kami telah menerima sebagian besar uang ini untuk membangun pembangkit tenaga listrik, bandar udara, dan kawasan industri tidaklah diperhitungkan ke dalam rumusan ini. Apakah alasan bahwa kebanyakan orang Amerika tidak tahu akan hal ini merupakan ketidakberdosaan? Tidak tahu dan sengaja memberikan informasi yang salah, ya-namun tanpa dosa?”

Keberpihakan yang timpang dalam hal ekonomi memang telah menjadikan stuktur ekonomi global ala Kapitalisme yang dirancang untuk kepentingan dan kebutuhan korporasi dan lembaga keuangan internasional, beserta beragam sektor yang melayani mereka, menjadi sia-sia. Kegagalan ekonomi kapitalisme ini sudahlah sangat parah. Itu pula yang disampaikan oleh Stiglitz dalam tulisannya, The Globalization of Protest,

“…perasaan bahwa sistem sekarang telah gagal, dan keyakinan bahwa bahkan dalam suatu demokrasi, proses electoral tak akan bisa membetulkan kesalahan…para pengejar rente (rent seekers) kaya menggunakan kekayaan mereka untuk mempengaruhi legislasi demi melindungi dan meningkatkan kekayaan mereka (yakni para pemrotes itu) benar, memang ada yang salah dengan sistem kita.”

Inilah sejatinya praktik politik busuk ala Kapitalisme yang tidak sama sekali berpihak pada rakyat. Kalaupun muncul kebijakan yang terkesan ramah, sejatinya bukan lah untuk rakyat. Praktik busuk akibat cara pandang Kapitalisme ini memang menjadi ‘borok’ yang harus segera diamputasi dan dibuang. Tidak hanya dalam urusan politik, ekonomi, pemerintahan, dan sebagainya. Namun cara pandang Kapitalisme sebagai sebuah sistem kehidupan yang seharusnya dicampakkan dan dibuang segera.

Meminjam istilah Syekh Taqiyuddin an-Nabhani terkait teori kemunculan partai politik yang benar, maka untuk memunculkan suatu pandangan politik yang benar di tengah-tengah masyarakat tanpa adanya sikap ‘anti politik’, maka wajib bagi kita untuk menyiapkan kondisi politik yang benar pula, termasuk cara pandang dalam berpolitik yang benar. Jika melihat fakta hari ini bahwa ideologi Kapitalisme masih berdiri tegak di tengah kubangan kerusakannya, maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah mencampakkan dan membuang Ideologi Kapitalisme sebagai sebuah sistem, lalu menggantinya dengan cara pandang politik yang bersumber dari Tuhan, yaitu Ideologi Islam. Wallahu a’lam.[]

Sumber:

John Perkins. 2007. Confession of an Economic Hitman. Ufuk Press: Jakarta.

Noam Chomsky. 2011. How the World Works. Softskull Press: New York.

Taqiyuddin an-Nabhani. 2013. Pembentukan Partai Politik Islam (Edisi Mu’tamadah). HTI Press: Jakarta.

William Blum. 2013. Demokrasi: Ekspor Amerika Paling Mematikan. Bentang Pustaka: Jakarta.

https://www.bps.go.id/pressrelease/2019/07/15/1629/persentase-penduduk-miskin-maret-2019-sebesar-9-41-persen.html
https://www.bps.go.id/pressrelease/2019/07/15/1630/gini-ratio-maret-2019-tercatat-sebesar-0-382.html
Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *