Mengapa Kita Harus Menggunakan Vaksin?

Share the idea

Penulis : Andika Abu Nadzhifah

Ada beberapa sebab mengapa muncul kalangan yang sangat fanatik menolak program vaksinasi.

Pertama, karena kehilangan kepercayaan terhadap rezim.

Kedua, meragukan kahalalan maupun keamanan atas apa-apa yang berasal dari orang kafir.

Ketiga, ketidakpercayaan pada WHO yang dianggap sebagai kepanjangan tangan kapitalis global.

Tapi, coba jawab dulu pertanyaan ini. Jika kita memutuskan untuk tidak percaya pada rezim, WHO, maupun orang-orang kafir itu, apakah kemudian pandemi Covid-19 akan selesai? Akan berhenti?

Semua kehidupan akan berjalan normal?

Ya tidak mungkin selesai. Bahkan justru tambah parah. Artinya, penolakan atas vaksinasi bahkan mempropagandakannya ke banyak orang karena alasan-alasan di atas, bukanlah bagian dari solusi. Sikap itu adalah bagian dari masalah! Sudahlah penanganan pandemi sekarang carut marut, kalangan anti vaksin ini justru memperparah keadaan.

Ingat, bahwa rezim itu penganut kapitalisme neoliberal. WHO pun bekerja atas landasan ideologi kapitalisme. Jika pandemi ini terus berlangsung, memangnya mereka tidak akan rugi? Para mafia kapitalisme global tidak akan rugi? Ekonomi mampet, dikira mereka bahagia dengan kondisi itu?

Ekonomi macet itu sangat dihindari oleh para penganut dan pengemban kapitalisme.

Mereka adalah gerombolan penyembah uang, tidak ada yang lebih dibencinya daripada aliran uang yang macet. Pandemi membuat ekonomi macet, maka sudah pasti, para mafia kapitalisme global itu meradang kalau pandemi terjadi berlama-lama.

Itulah kenapa, mereka berusaha menghentikan pandemi secepat mungkin. Karena membiarkan pandemi lebih lama akan mengancam ekonomi lebih buruk ketimbang mengeluarkan modal sangat besar untuk menemukan solusi pandemi.

Jadi, mau yang berkuasa itu ideologi kapitalis atau komunis atau Islam, tidak ada yang mau pandemi berlangsung terus-menerus. Semua juga berharap dan berusaha agar pandemi selesai.

Yang berbeda dari ketiga ideologi itu adalah tujuan dari mitigasi pandemi ini, bukan urusan teknis bagaimana menghentikan pandemi.

Vaksinasi adalah salah satu solusi teknis untuk memitigasi pandemi. Baik kapitalisme maupun Islam pasti akan mengembangkan vaksin sebaik mungkin, meski tujuan dari pengembangan vaksin ini berbeda.

Maka, ketika ketidakpercayaan pada kapitalisme justru dilimpahkan pada ketidakmauan untuk menerima vaksinasi, sungguh cara berpikir seperti itu sangatlah bermasalah. Dan sekali lagi, bahkan itu merupakan bagian dari masalah!

Ketidakpercayaan pada penguasa karena dianggap sering bohong, jangan sampai merembet juga kepada para ilmuwan yang terus bekerja melakukan riset secara ilmiah. Kita tidak boleh offside!

Wabah yang terjadi hari ini sudah masuk hukum dharar dan dhirar. Ia tidak boleh dibiarkan berlarut tanpa penyelesaian segera. Dan di sinilah peran para ilmuwan yang ahli di bidangnya ketika melakukan riset dan memberikan solusi: mulai dari cara menjalankan prokes, penanganan, hingga pencegahan.

Tidak bisa juga kita beranggapan, mau divaksin atau tidak itu pilihan masing-masing saja. Bahwa, tak boleh ada paksaan dalam vaksinasi.

Padahal kalau memang benar-benar orang yang mustanir (berpikir cemerlang) dan benar-benar mengurus urusan umat, maka pemikiran seperti itu tidak akan muncul. Seharusnya kita berpikir apa yang terbaik untuk umat, beyond fiqh!

Mari belajar untuk memiliki mental pemenang yang berusaha menemukan solusi atas berbagai persoalan yang menimpa umat, bukan mental pecundang yang selalu merasa jadi korban dan cuma bisa menyalahkan sana-sini tanpa bisa menyelesaikan masalah.

Sudah ada ilmuwan muslim sekaligus pengemban dakwah Islam ideologis yang juga menjadi pakar di bidangnya.

Mereka tidak hanya memahami perbedaan perkara hadhoroh-madaniyah, namun lebih dari itu: mereka adalah orang-orang yang juga memahami fakta.

Perpaduan mereka dengan para ahli fikih yang juga menjadi pengemban dakwah ideologis, adalah kombinasi yang memberi panduan yang tepat bagi kita yang awam.

Maka, yang kita butuhkan saat ini adalah kesabaran untuk terus belajar dan ber literasi.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *