Seteru Kekal di Era Liberal

Share the idea

Pengalaman pahit nan menyedihkan hilangnya “tujuh kata” di Piagam Djakarta telah membentuk arah perjuangan baru. Sebab asa itulah, lahir Partai Masjumi. Adalah asa untuk menjadikan Islam sebagai dasar sekaligus sumber hukum kenegaraan Indonesia. Namun, iklim per-politik-an kala itu sangat jauh dari Islam. Rezim orde lama (orla) justru membawa visi berbeda. NASAKOM adalah perwajahan rezim Orla kala itu.

NASAKOM adalah sintesis antara Nasionalis-Agama-Komunis. Sintesis yang akhirnya tak pernah bersatu padu. Adalah Masjumi yang terjepit di antara dua kekuatan besar kala itu, komunisme dan kapitalisme. Namun, Masjumi menolak tegas keduanya serta memilih berdiri di jalan Islam. Penentangan yang tak terelakkan itu begitu nampak antara Masjumi dan PKI.

Setelah Majelis Syura Masjumi menetapkan bahwa komunisme adalah paham yang kufur karena mengingkari Tuhan. Maka Dewan Pimpinan Partai Masjumi mengeluarkan publikasi berjudul, “Kami Memanggil”. Berusaha mengingatkan dan mengajak muslim yang telah terbawa arus komunisme untuk kembali kepada Islam.

“Oleh sebab itu, kepada kaum muslim jang memasuki partai komunis (PKI) atau mengikuti golongan komunis (SOBSI, BTI, Gerwani, Gerwis) kami berseru supaja mereka meninggalkan partai dan golongan itu dan kembali ke dalam Islam, kami mengharap supaja seruan kami ini tidak dirasakan oleh kaum Muslim jang masih dalam lingkungan komunis sebagai serangan terhadap mereka.”

Pernyataan serta tulisan tokoh-tokoh Masjumi pun sepakat, bahwa komunisme itu adalah tidak sesuai ajaran Islam.

Konfrontasi PKI-Masjumi pun begitu terasa di Pemilu 1955. Saling sindir dan saling serang bahkan di meja podium kampanye mewarnai konfrontasi itu. Di Jakarta bahkan diteriakkkan dengan lantang, “Jangan pilih Masjumi. Kalau Masjumi menang, Lapangan Banteng dibuat menjadi Lapangan Onta!”.

Bahkan D.N Aidit di ruangan kongres berpidato dengan lantang, “yang dijadikan sasaran oleh PKI ini bukanlah Syahrir biasa, Natsir biasa, atau Sukiman biasa yang mungkin kalau dicari bisa ditemukan di kampung-kampung dan desa-desa di negeri kita. Tidak, mereka bukan orang-orang biasa! Mereka adalah wakil-wakil politik daripada musuh-musuh rakyat Indonesia, wakil-wakil politik daripada Imperialisme belanda, Amerika, dan Inggris,”.

Walau terasa aneh dan tidak sesuai fakta, setidaknya pidato tersebut menggambarkan konfrontasi tak terelakkan. PKI pun didaulat menjadi seteru abadi Masjumi. Bahkan, vonis “mati” Masjumi dari gelanggang perpolitikan pun ternyata ulah tokoh PKI.

Konfrontasi yang membadai tidak lah membuat mereka bermusuhan dan memberi jarak. Tak jarang Moh Natsir berdiskusi dan ngopi di gedung dewan bersama DN Aidit. Bahkan, saat Natsir dijebloskan ke penjara oleh Rezim Orla dan bertemu orang-orang kiri sesama tahanan, ia berkata, “Izinkan saya mengajak anda kembali kepada Islam,”. Ia merangkul mereka hingga membuat mereka tersentuh dan menangis. Itulah yang kemudian hari dikenal dengan rekonsiliasi dari hati [].

Sumber :

Artawijaya. 2014. Belajar dari Partai Masjumi. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta.

Remy Madinier. 2013. Partai Masjumi: Antara Godaan Demokrasi dan Islam Integral. Mizan Pustaka. Bandung.

Ahmad Mansur S. 1996. Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia. Mizan Pustaka. Bandung.

Gambar: https://kepustakaan-presiden.perpusnas.go.id/uploaded_files/jpg/photo/normal/FOTO%20BK%20143.jpg

Share the idea