Bagaimana Kapitalisme Menghancurkan Lingkungan Kita?

Share the idea

Setiap kontestasi pemilihan pemimpin politik, kita akan senantiasa disuguhkan beberapa perbedaan pendapat yang setidaknya, menghasilkan tiga kubu besar:

  1. Ada yang mencoba membandingkan. Kondisi mana yang lebih baik, apakah di bawah kepemimpinan A atau kepemimpinan B? Pilihan satu atau dua?
  2. Ada juga yang mencari pilihan ketiga. Bahwa, memilih pemimpin A atau pemimpin B tidak cukup menyelesaikan masalah. Karena, selain pemimpin yang kurang kompeten, ternyata keterpurukan itu juga didukung oleh sistem yang dijalankan.
  3. Dan, ada yang tidak sibuk dengan perdebatan pemimpin A atau pemimpin B, pilihan satu atau pilihan dua. Karena bagi mereka, siapapun pemimpinnya, taat pada pemimpin dan menjaga “stabilitas politik” adalah prioritas nomor wahid.

Jadi, sebelum momen baku hantam itu dilanjutkan, ada satu ma’lumat penting yang ingin tim KLI sampaikan.

Bahwa, sebelum misi “pembebasan” dilanjutkan, kita memang selayaknya mengumpulkan informasi dan memperkaya tsaqofah kita. Agar, langkah perjuangan yang ditempuh, memang mendekatkan kita pada “kebangkitan umat” yang selama ini kita cita-citakan.

Jadi, dalam kesempatan kali ini, izinkan tim @komunitasliterasiislam menyajikan kajian serius tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik “dinding”. Apa yang sebenarnya terjadi pada sistem negara kita, yang selama ini dianggap telah melindungi kita dari serangan-serangan yang tak diharapkan.

Uniknya, kita akan memulainya dari satu isu yang sangat tidak “sexy”. Satu isu yang sangat tidak populer, padahal ia adalah sektor strategis yang tidak hanya menentukan keberlangsungan negara, tapi juga seluruh umat manusia.

Tak lain dan tak bukan, isu itu adalah isu energi. Sebuah isu yang pernah diangkat dalam viralnya film “sexy killer”, kontroversi tragedi Chernobyl, bahkan juga turut mengantarkan seorang penista agama menduduki jabatan penting di sebuah negara.

Bukan KLI, jika tidak membahasnya dari sisi ideologi. Selain mengutuk kapitalisme, KLI juga akan menghujat sistem energi ala sosialisme: sistem yang digadang-gadang menjadi alternatif dari berbagai kerusakan sistem hidup kita hari ini.

Sejak awal, KLI tidak menyajikan doktrin normatif.

Jika selama ini kita bertanya-tanya, “mengapa perubahan sistem secara revolusioner memang dibutuhkan alih-alih berdebat mengenai pemilihan pemimpin”, maka dalam kesempatan kali ini, KLI akan menyajikan argumentasi itu dengan detail. Dimulai dari sistem energi kita.[]

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *