Bantuan Khilafah Kepada Nusantara Di Abad Ke-16 M

Share the idea

Mengapa disebut sebagai klaim? Karena pada tahun tersebut, wilayah-wilayah Islam mengalami masa kolonialisme. Mereka tidak merdeka, dan tentu saja juga tidak berada di bawah perlindungan Utsmaniyah.

Wilayah-wilayah Nusantara yang diklaim tersebut, secara normatif masuk daerah jajahan negara-negara Eropa (pemerintah kolonial Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat – yang saat itu berhasil menggantikan Spanyol untuk menjajah Filipina).

Jadi, salahkah klaim Utsmani? Tunggu dulu. Apa yang dilakukan Khilafah saat itu, ternyata memiliki landasan historis yang panjang.

Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa kekuasaan-kekuasaan Eropa di Asia Tenggara adalah sebuah kekuasaaan yang diambil dengan cara penjajahan. Padahal dulu, sebelum wilayah-wilayah di Nusantara masuk teritori penjajahan Belanda, mereka adalah wilayah merdeka, punya banyak sultan, dan bahkan sultan-sultan itu secara umum mengakui kepemimpinan Khilafah Utsmaniyah.

Kapan proposal baiat mereka diajukan kepada Khilafah?

Yaitu ketika amanah Khilafah sudah beralih dari kepemimpinan Abbasiyah kepada Utsmaniyah. Walhasil, Turki menjadi pemegang pucuk kepemimpinan tertinggi di seluruh dunia Islam.

Peralihan tersebut dilakukan pasca Utsmani berhasil menaklukkan Mesir dalam Perang Marj Dabiq di masa Sultan Selim I (cucu Sultan Muhammad Al-Fatih). Sebelumnya, Khilafah dipegang oleh Abbasiyah yang pasca serangan Mongol, didominasi kepemimpinan orang-orang Mamluk. Sedangkan Utsmani, waktu itu hanya sekedar Kesultanan, sebagaimana Sumatera Pasai dan Bengali.

Peralihan kepemimpinan politik di Timur Tengah dan eksistensi kekuasaan Utsmani yang begitu besar yang muncul sebagai adidaya baru, tentu juga disadari oleh sultan-sultan yang ada di Nusantara.

Mereka pun mengajukan baiat kepada Khilafah di masa Sultan Sulaiman Al-Qanuni.

Bahkan di Museum Topkapi, masih tersimpan surat dari Sultan ‘Alauddin Ri’ayat Syah al-Qahhar (sultan ke-3 Kesultanan Aceh). Baiat ini juga menandakan, bahwa penguasa Islam di Nusantara seperti sultan di Aceh, memahami bahwa mereka bukanlah pemilik kekuasaan tertinggi bagi umat Islam di seluruh dunia.

Pengajuan baiat yang dilakukan oleh sultan Aceh, ternyata juga dilakukan oleh sultan-sultan yang ada di India dan sekitarnya, seperti sultan Bahadur Shah di Gujarat, penguasa di Sri Lanka, Bengali, hingga Maldives (Maladewa). Mereka bahkan mengajukan kepada Khalifah Sulaiman al-Qanuni agar mereka dijadikan sebagai Sancak Bey (pemimpin administratif negara Utsmani yang setingkat dengan Gubernur – atau yang biasa disebut sebagai Wali).

Sayangnya, ketika surat tersebut sampai di Turki, Sultan Sulaiman al-Qanuni sudah wafat. Meski demikian, surat tersebut tetap dibaca oleh anaknya yang menjadi Khalifah selanjutnya, yaitu Sultan Selim II yang begitu antusias menerima pernyataan dukungan dan baiat dari sultan-sultan di Asia Tenggara. Akhirnya, Sultan Selim II mengakui mereka sebagai Gubernur (Wali Khilafah) dan wilayah mereka menjadi Provinsi bawahan Khilafah Utsmaniyah.

Tak hanya di Aceh, jejak baiat yang sama juga diikuti oleh sultan lainnya di Nusantara, seperti Kesultanan Banten, Mataram, dan Ternate. Itu semua terjadi di abad ke-16 M.

Tidak hanya mengakui mereka sebagai Gubernur. Sultan Selim II juga mengirimkan bantuan militer ke Nusantara. Saat itu, legitimasi bahwa sultan tersebut mendapat bantuan dari Utsmani, disimbolkan dengan meriam. Meriam tersebut, banyak dibuat oleh ahli militer yang dikirim oleh Utsmani.

Selain dalam bentuk meriam, kita dapat menemukan jejak bantuan Khilafah di kompleks makam Tengku Di Bitay di Gampong Bitai, Aceh. Ada sekitar 20 makam yang diisi oleh para mujahid dan masyayikh yang berasal dari Palestina dan Turki, yang kesemuanya dikirim oleh otoritas Khilafah Utsmani.

Ketika Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar meminta bantuan militer untuk melawan Portugis, maka pihak Utsmani banyak mengirim ahli senjata mereka yang kemudian mengajarkan kepada para pengrajin Aceh untuk membuat meriam. Pada titik inilah, terjadi transfer teknologi.

Bahkan, meriam buatan Aceh kemudian diimpor ke wilayah lain, misalnya di kesultanan Banten, kesultanan Demak, Maluku, dan Sulawesi.

“Di negeri Aceh telah ditemukan tembaga, maka (Sinan) Pasha (utusan Khalifah Utsmani, red.) memerintahkan agar tembaga itu dicor untuk dibuat meriam dan senapan yang banyak. Mereka memahat di atas meriam itu tahun pengecoran, nama pengecornya, dan nama Tuan kita al-Marhum Sultan Selim Khan beserta nama sang penguasa Aceh. Sinan Pasha juga memerintahkan penduduk Aceh agar mempelajari cara mengecor tembaga dari mereka. Maka rakyat Aceh belajar dari mereka dan membuat banyak sekali meriam.”

Pernyataan utusan Sultan Aceh kepada Gubernur Utsmani di Jeddah tahun 1849. Sumber: BOA, İrade Hariciye (İ.HR), 66/3208 (4)

Meriam Utsmani yang dipersembahkan kepada kesultanan Aceh, sekarang berada di museum Bronbeek di Belanda. Tatkala Aceh kalah dari Belanda, mereka merampas meriam tersebut. Setelahnya, di meriam yang pada awalnya masih terdapat nama Khalifah Utsmani sebagai tanda bantuan Khilafah, besar kemungkinan ditimpa dan diganti dengan nama Raja Willem III. Penindihan nama tersebut adalah simbol, bahwa Belanda berhasil menaklukkan kesultanan terkuat di Asia Tenggara, yaitu Aceh.

Meriam Aceh yang dirampas Belanda. Sumber gambar: statusaceh.net

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *