Ketika Khilafah Menyelamatkan Inggris dengan Cikal Bakal Vaksin

Share the idea

Tahun 1714, Royal Society (Sebuah perkumpulan ilmuwan Eropa) mendapatkan kiriman surat dari Emanuel Timoni tentang teknik variolasi yang ia saksikan di Istanbul

(Ibu Kota Khilafah ‘Utsmaniyyah). Selang dua tahun, pada 1716, seorang yang bernama Giacomo Pylarini juga mengirimi surat serupa kepada Royal Society tentang teknik variolasi. Namun, dua surat yang dilayangkan itu tidak menarik minat Royal Society terhadap teknik variolasi yang dikembangkan Khilafah.

Adalah Lady Mary Wortley Montagu (1689-1762) yang berhasil mengubah kondisi itu. Ia merupakan bangsawan keturunan Kerajaan Inggris yang hidup kala wabah penyakit mengerikan, smallpox (cacar), menjamur. Meski ia mengalami sendiri ganasnya penyakit ini dan berhasil sembuh pada 1715, kakak laki-laki yang ia sayangi tak terselamatkan setelah berjuang 18 bulan melawan penyakit mengerikan yang sama.

Cacar pada anak yang divaksin dan tidak pada 1901. Sumber gambar: nzherald.co.nz

Mendengar teknik variolasi yang sedang berkembang, pada tahun 1717, ia dan suaminya melakukan kunjungan kerajaan ke Istanbul. Setelah beberapa pekan hidup di ibukota Khilafah, ia berkirim surat kepada seorang kawannya, yang berisi kekaguman atas pengobatan yang dilakukan oleh dokter-dokter Khilafah ‘Utsmaniyyah.

Melihat teknik variolasi itu, lantas ia pun bertekad untuk mencobanya. Uji coba pertama langsung dilakukan kepada putranya yang berusia 5 tahun. Pada 1718, ia memerintahkan seorang dokter ahli bedah kedutaan, Charles Maitland, untuk melakukan teknik variolasi itu. Sekembalinya ke London, pada tahun 1721, ia meminta Charles Maitland melakukan teknik variolasi serupa kepada putrinya yang berusia 4 tahun di depan dokter Kerajaan Inggris.

Metode ini ternyata sukses. Maka, mulailah Kerajaan Inggris menggunakan teknik variolasi itu.

Ilustrasi variolasi yang difasilitas Lady Montagu

Setelah Lady Montagu menggunakan teknik tersebut, praktik ini akhirnya menyebar ke beberapa anggota kerajaan. Charles Maitland kemudian diberi lisensi oleh kerajaan untuk melakukan praktik ini terhadap enam tahanan di Newgate (Inggris) pada 9 Agustus 1721. Beberapa dokter pengadilan anggota Royal Society dan Anggota College of Physicians mengamati proses tersebut. Setelah melakukan praktik yang sama, semua tahanan terbukti kebal.

Pada bulan-bulan berikutnya, hal yang sama dilakukan kepada anak yatim-piatu. Hasilnya sukses besar. Akhirnya pada tanggal 17 April 1722, Maitland berhasil merawat dua putri Wales. Tidak mengherankan jika prosedur ini diterima secara umum dan sukses.

Meski kisah Lady Montagu cukup dikenal di kalangan bangsawan, namun uniknya, program ini tak lantas langsung digunakan di seluruh Eropa. Di Rusia misalnya, meski pada dekade 1762 memiliki ratusan orang yang sekarat akibat wabah cacar ini, mereka tak langsung melakukan variolasi dengan alasan efek samping yang saat itu masih belum jelas. Terlebih, materi inokulasi ini diambil dari orang yang terinfeksi cacar. Dalam kasus Prancis, prosedur ini dilarang karena dianggap bertentangan dengan ajaran agama.

Namun karena jumlah korban terus meningkat, akhirnya Catherine II sebagai penguasa Rusia, menginisiasi variolasi yang dimulai dari diri dan keluarganya.

Karena programnya yang sukses, karaguan itu hilang dan dengan cepat menurunkan tingkat penyebaran wabah akibat meningkatnya jumlah penduduk yang divariolasi. Inisiatif ini kemudian dipuji Friedrich II dari Prusia (Jerman), yang menyamakannya dengan tindakan mulia Lady Montagu di masa lalu.

Lain Rusia, lain Prancis. Nasib naas menimpa Raja Louis XV, yang meninggal pada 10 Mei 1774 akibat cacar. Catherine II, kemudian menyombongkan prestasinya dalam suratnya tertanggal 19 Juni 1774 yang ia kirimkan kepada koleganya, Friedrich Melchior. Ia menulis, “Raja Prancis seharusnya malu akibat meninggal karena cacar di abad ke-18 (The French King ought to be ashamed of dying from smallpox in the 18th century).”

Kaki korban cacar yang diawetkan, berlokasi di National Museum of Health and Medicine, Silver Spring, Amerika Serikat. Sumber gambar: abcnews.go

Setelah sukses di Eropa, metode variolasi ini mulai diperkenalkan ke Amerika oleh seorang dokter Inggris bernama William Douglass M.D (1691-1752) yang mencoba metode tersebut secara pribadi di Inggris dan Amerika. Barulah setelah itu, metode ini dipelajari lebih lanjut oleh Edward Jenner M.D., LL.D., F.R.S, yang hari ini kita kenal sebagai penemu vaksin. Jenner, tertarik dengan hubungan antara penyakit cacar, cacar air, dan swinepox.

Pada tahun 1789 Jenner bereksperimen dengan menginokulasikan terhadap anaknya sendiri. Kemudian pada usia satu setengah tahun, anaknya kembali diinokulasikan dengan cacar air, yang selanjutnya kembali diinokulasikan dengan inokulasi cacar air konvensional.

Penyelidikan Jenner tersebut bertujuan untuk mengamati kekebalan yang diberikan oleh cacar air, dan bagaimana secara artifisial hal itu dapat dilakukan. Setelah itu, Jenner melakukan inokulasi kembali kepada pasiennya dengan virus cacar hidup untuk melihat apakah cacar air tersebut bekerja. Pada 14 Mei 1796, penelitian tersebut berhasil.

Anak pertama yang akhirnya terbukti sehat pada beberapa pengujian Jenner, adalah James Phipps. Hal inilah yang menjadikan Janner disebut oleh ‘beberapa kalangan’ sebagai orang yang pertama kali menemukan metode vaksinasi.

Rangkaian kisah tersebut, pada akhirnya memang menimbulkan beragam pertanyaan. Satu hal yang paling menonjol adalah, bagaimana bisa Khilafah menggunakan teknik variolasi dalam penanggulangan wabahnya?

Teknik variolasi ini, merupakan pengembangan lebih lanjut dari teknik inokulasi (memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru), yang prosesnya mengacu pada infeksi virus cacar pada subkutan (jalur masuk obat suntik di bagian bawah kulit) yang diambil dan diberikan ke individu lain.

Dalam mengembangkan itu, para ilmuwan muslim juga mengadopsi teori-teori Ar-Razi/Rhazes (ilmuwan muslim abad ke-9 M) yang banyak memberi deskripsi medis terkait penyakit cacar. Misalnya, penularan cacar dari orang ke orang dan munculnya imunitas yang kebal terhadap penyakit cacar dari orang yang sudah pernah terkena penyakit ini sebelumnya (acquidered immunity).

Meski teknik variolasi hanya menjadi cikal bakal dari vaksin, namun hal ini merupakan prestasi yang luar biasa. Bukan hanya menjadikan Eropa, yang pada awalnya tidak peduli pada teknik ini, justru belajar dari Khilafah. Bahkan, para bangsawan Eropa – yang notabene memiliki harga diri tinggi – rela bersusah payah menempuh perjalanan dan bersedia melakukan transfer teknologi dari Turki ke Inggris.

Sejak awal, Islam tidak pernah memisahkan antara ilmu pengetahuan dengan ilmu agama. Keduanya senantiasa diberikan dorongan untuk berkembang. Inilah yang kemudian menjadikan Islam sebagai center of knowledge dunia.

Maka, teruntuk para kaum muslimin yang masih berpikiran bahwa di balik berbagai musibah yang terjadi itu selalu ada sebuah konspirasi besar, sangat disarankan untuk lebih bersikap objektif dan kritis. Apabila fakta hari ini justru menunjukkan ketidakcocokan, lebih baik diluruskan dan diberi masukan yang konstruktif, bukan justru menegasikan metode vaksin yang sudah dibangun oleh para ilmuwan Islam[].

Sumber dan Rekomendasi Bacaan:

https://www.fikriyat.com/tarih/2020/11/22/caricenin-cesareti-sayesinde-halk-asi-korkusunu-yenmisti/

https://www.jstor.org/stable/pdf/j.ctt1zxsj03.7.pdf?refreqid=excelsior%3A6c1850c3def8513dc1cd283edc51a993

Barguet. 1997. The Triumph Over The Most Terrible of The Minister of Death. Jurnal Ann Internal Medicine.

CDC. 2016. History of Smallpox.

Hong. 2014. An Historical Examination of Smallpox Vaccinations: Past and Present Immunization Challenges.

Moore J. 1815. The History of The Smallpox.

NHS. 2016. The History of Vaccination.

Plotkin. 2014. History of Vaccination. Jurnal Proc Natl Acad Sci USA.

Stefan Riedel, MD., PhD., (2005). Edward Jenner and the history of smallpox and vaccination. BUMC Proceedings;18: 21-25.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *