Lagi Pengen Ngasih Tulisan Ringan. Dibaca Ya…

Share the idea

Ada artis yang membuat surat terbuka agar Presiden Joko Widodo menghentikan PPKM Darurat dengan landasan rakyat. Katanya, imbas dari kebijakan ini adalah banyaknya rakyat yang semakin menderita dan sulit mencari nafkah.

Terdengar populis, menyuarakan hati rakyat bawah. Tapi kita memang layak untuk berhati-hati, terlebih jika ada yang mengajak ke Surga padahal sedang berjalan ke Neraka.

Teruntuk yang rutin mengikuti pembahasan KLI, tentu familiar dengan dukungan KLI atas solusi “lockdown”, bahkan sejak awal wabah ini berlangsung. Solusi ini memang bukan sembarangan, mengingat banyak ahli yang bahkan hingga saat ini, berpendapat serupa.

Lockdown itu apa? Rakyat dilarang keluar, tapi kebutuhan hidup dijamin negara.

Ibarat kata kita sakit, tapi pakar mengharuskan kita minum obat. Kita tidak bisa mengatakan, bahwa karena harga obat itu mahal dan rasanya juga pahit, lantas menuntut agar tidak perlu minum obat supaya uang untuk beli obat dapat dialokasikan ke kebutuhan sehari-hari.

Ahli punya pakem. Bahwa agar bisa sembuh, kita harus mengonsumsi obat. Dan teruntuk yang tidak punya uang, yang dituntut bukanlah meminta agar tidak membeli obat, tetapi menuntut agar

negara hadir dan menyediakan layanan kesehatan bagi rakyatnya.

Logikanya seperti itu. Jadi, ketika ada pihak yang menuntut PPKM dihentikan dengan alasan banyak warga yang kelaparan, di saat yang sama seakan juga mengatakan,

“Udah, tak apa-apa mereka banyak yang meninggal karena Corona. Yang penting, ekonomi tetap jalan.”

Bukankah cara pikir seperti itu tak beda jauh dengan pola pikir para elit? Mestinya jika serius berada di belakang rakyat, buatlah surat terbuka agar pemerintah menjamin kebutuhan hidup rakyatnya agar mereka tetap di rumah!

BONUS: BACAAN MENARIK HARI INI

Jika kita membaca tulisan dari Cambridge yang membahas pengaruh wabah Black Death di masa ‘Utsmaniyyah dengan judul, “The Black Death and the Rise of the Ottomans”[1], akan ditemukan sebuah pernyataan menarik.

“Furthermore, Ottoman charitable institutions were not quite state initiatives: Most grand mosques, soup kitchens, and hospitals were started by a generous donation from a sultan, a member of his family, a grand vizier, or a provincial governor, but those who contributed did so as private individuals, not as state agents.”

Bahwa, bantuan sosial yang dilakukan oleh pejabat, tidak ditafsirkan sebagai bentuk perhatian negara. Melainkan, dilakukan hanya sebagai sikap kepedulian individu mereka.

Hal ini tentu menarik. Pembahasan berbagai kajian atas tindakan Khilafah terhadap wabah maupun orang-orang sakit, justru menunjukkan bahwa negara sengaja menginisiasi wakaf. Karena bagaimanapun, wakaf memang dianjurkan dalam Islam, dan negara memotivasi orang-orang yang berkecukupan untuk melakukannya secara masif dan tersistematis.

Wakaf inilah yang menjadi sebab atas menjamurnya rumah sakit, masjid, dan sekolah di masa Khilafah.[2] Biaya yang akan dikeluarkan oleh negara atas hal-hal tersebut nampaknya juga tak dianggarkan secara khusus sebagaimana pengertian APBN yang kita kenal hari ini. Sebab, Baitul Maal memprioritaskan pengeluaran itu berdasarkan kebutuhan aktual di lapangan.

Itulah mengapa, di masa ‘Utsmaniyyah juga menjamur “Imaret”, semacam dapur umum yang berfungsi untuk memberi makan secara gratis bagi kalangan yang membutuhkan. Imaret sering ditemukan dalam kompleks pemerintahan (Külliye) yang bersatu dengan bangunan lainnya, seperti masjid, sekolah, serta rumah sakit.[3]

Imaret di kompleks Haseki Hürrem Sultan. Sumber gambar: https://kulturenvanteri.com/yer/haseki-hurrem-sultan-imareti/#16/41.009208/28.941322

Uniknya, Imaret tak hanya diperuntukkan bagi muslim. Dengan kondisi ‘Utsmaniyyah yang saat itu justru banyak meliputi wilayah-wilayah dengan mayoritas berpenduduk non-muslim, maka Imaret menjadi salah satu lembaga yang mengenalkan toleransi Islam dan meleburkan masyarakat muslim dan non-muslim.[1] Dalam skala yang lebih luas, Imaret juga menjadi tempat favorit para pelancong saat itu. Karena, tentu saja, mereka mendapatkan makanan secara gratis.[3]

Apakah hal ini terjadi dalam sistem Islam? Tentu saja! Hal ini berlangsung dari generasi ke generasi dan menjadi fenomena umum yang terjadi secara terstruktur dan masif di dalam Khilafah,

meski antar masa memiliki nama lembaga dan aplikasi yang lebih berkembang dari masa-masa sebelumnya.

Hal ini tentu berbeda dengan kapitalisme, yang menurut Karl Marx, hanya akan menghasilkan masyarakat kapitalis yang teralienasi (terpisah) dari diri sendiri, orang lain, dan pekerjaannya.[4] Atau dalam bahasa yang lebih sederhana, adalah masyarakat yang sangat individualis.

Maka tak perlu berharap banyak bahwa para pejabat itu akan mengalokasikan fasilitas-fasilitas mewah negara dan aset-aset pribadinya untuk membantu rakyatnya. Kalaupun ada, maka hal tersebut lebih banyak diinisasi oleh swasta maupun sesama masyarakat sipil.

Kita juga bisa saja berdalih bahwa negara tak mau melakukannya karena negara tak punya dana. Tapi jika melihat gaya hidup pejabat dan jumlah kekayaannya, atau kesibukan mereka menonton sinetron sembari mengakrabkan diri dengan khalayak warga twitter, maka kita memang layak untuk mempertanyakan keengganan mereka untuk membantu rakyat yang notabene adalah atasan mereka.

Dalih lainnya, bisa saja bahwa para pejabat itu sangat menghindari riya’. Mereka tak ingin memamerkan bantuan dan cukup diberikan secara diam-diam.

Tentu saja dalih ini sangat tidak tepat. Karena bagaimanapun, mereka adalah representasi sikap negara secara keseluruhan.[]

Sumber dan Rekomendasi Bacaan

[1] https://www.cambridge.org/core/books/natural-disasters-in-the-ottoman-empire/black-death-and-the-rise-of-the-ottomans/D83E412C0BB3C092E79683722AFFFC33/core-reader

[2] Prof. Dr. Raghib As-Sirjani. 2017. Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia. Pustaka Al-Kautsar: Jakarta.

[3] Amy Singer. 2005. Serving Up Charity: The Ottoman Public Kitchen. Journal of Interdisciplinary History, xxxv:3, 481-500.

[4] Syamsuddin Ramadhan. 2001. Koreksi Total Sosialisme-Komunisme, Marhaenisme. Al-Azhar Press: Bogor.

Klik linktr.ee/kli.books
dan tetap terhubung dengan seluruh media sosial Komunitas Literasi Islam
Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *