Mengapa Khilafah Diserukan di Berbagai Penjuru Dunia?

Share the idea

Khilafah jelas merepresentasikan hal yang berbeda di benak para pendukung dan penentangnya. Pada awal abad ke-20, para pendukungnya menganggap Khilafah sebagai simbol persatuan Islam. Ia adalah harapan terakhir dalam melawan imperialisme Barat, dan titik tolak untuk memperkuat identitas umat melawan segala bentuk nasionalisme baru. Bahkan, Khilafah dianggap sebagai kendaraan yang mampu memperluas pengaruh politik para elit di kawasan itu. Para penentangnya mengklaim bahwa Khilafah merupakan simbol peradaban yang telah usang. Para pemimpin anti-modernitas yang totaliter sekalipun merasa khawatir jika Khilafah dimanfaatkan untuk menjegal perjuangan politik yang mereka lakukan melalui berbagai struktur monarki yang tersebar di seluruh kawasan.

Terhapusnya Khilafah dari benak publik selama beberapa dekade, kemunculannya kembali sebagai bagian dari apa yang dianggap sebagai kebangkitan Islam, dan terbukanya ruang publik untuk diskusi politik di Timur Tengah terutama setelah terjadinya fenomena Arab Spring 2010, telah melahirkan momentum baru untuk kembalinya Khilafah. Faktanya, banyak faktor yang mendorong populasi Muslim di Timur Tengah dan di wilayah lain untuk mencari alternatif bagi tatanan politik mereka saat ini. Berbagai faktor itu di antaranya pendudukan wilayah yang dianggap penting secara religius seperti Palestina, penindasan populasi Muslim di berbagai daerah yang diyakini menjadi bagian sejarah Islam seperti di Kashmir atau wilayah Kaukasus, kemiskinan yang melanda banyak wilayah komunitas Muslim meskipun mereka memiliki kekayaan berupa sumber daya alam dan buatan, sikap tunduk negara terhadap agenda asing, dan penindasan rezim yang telah menekan rakyat tanpa mempedulikan kepentingan dan nilai-nilai mereka. Itu semua terjadi di berbagai negara baik yang berbentuk republik seperti Mesir, negara pseudo-demokrasi seperti Pakistan, maupun monarki seperti Maroko atau Yordania.

Kekecewaan itu sama-sama dirasakan karena identitas kolektif Muslim yang terwakili dalam konsep umat, meskipun mereka terpecah menjadi negara-bangsa yang merupakan satu-satunya bentuk pemerintahan di kawasan itu selama beberapa generasi. Dengan kegagalan negara-bangsa untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi umat, Khilafah disodorkan sebagai sebuah alternatif. Gagasan tentang umat dan representasi politiknya dalam bentuk Khilafah berasal dari sumber-sumber hukum Islam.

Pada Oktober 2007, massa sekitar 100.000 orang memadati stadion Gelora Bung Karno Jakarta untuk “mendorong terciptanya satu negara di Dunia Islam.” Acara itu menjadi perhelatan terbesar dari serangkaian konferensi dan unjuk rasa damai di berbagai lokasi, dari Inggris, Palestina, hingga Ukraina, yang diselenggarakan oleh partai politik Islam, Hizbut Tahrir (Partai Pembebasan).

Beberapa kelompok lain juga menunjukkan keinginannya mendirikan Khilafah, mulai dari kelompok tertutup yang berbasis di Indonesia, Jamaah Islamiyah, hingga partai oposisi Maroko, Justice and Charity Party (Partai Keadilan dan Amal). Tidak hanya itu, dalam pidato pada pertengahan 2006, pemimpin al-Qaeda, Osama bin Laden, menegur “saudara-saudaranya dalam Jihad” di “Baghdad, rumah bagi Khilafah,” bahwa mereka “tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk mendirikan cikal bakal Khilafah.”

Sejak pergolakan Arab pada akhir tahun 2010, sejumlah tokoh Islam dari seluruh negara yang terdampak mengumumkan secara terbuka bahwa perubahan di Timur Tengah merupakan langkah menuju penegakan kembali Khilafah. Seruan disampaikan oleh para pemimpin oposisi terkemuka. Syekh Abdul Majid al-Zindani berseru kepada kerumunan pendukungnya di Yaman. Ulama setempat, Syekh Yusuf al-Eid, juga berorasi di depan para demonstran di kota Daraa, Suriah. Penegakan kembali Khilafah juga diserukan dari balik mimbar berbagai masjid besar di Mesir (dan disiarkan melalui berbagai jaringan TV satelit, yang baru saja diluncurkan dalam suasana yang lebih permisif pasca-pergolakan). Seruan itu bahkan disinggung dalam pidato sekretaris jenderal partai Tunisia en-Nahda, Hamadi Jebali, setelah meraih kursi dalam pemilu. Ia berkata kepada para pendukungnya bahwa “kita berada di Khilafah keenam, insyaAllah.”

Gagasan penegakan Khilafah tampak populer di negeri-negeri Muslim dan didukung oleh akar rumput. Hasil jajak pendapat pada 2007 menunjukkan bahwa 65 persen responden dari empat negara Muslim besar ingin hidup di bawah satu negara. Akan tetapi, gagasan itu belum mendapatkan sambutan positif dari dunia internasional.

Pemerintahan George Bush Jr. secara  konsisten mengkritik konsep Khilafah Islam global. Pada 2006 saja, kata “Khilafah” disebutkan lebih dari lima belas kali oleh Bush, empat kali dalam satu pidato. Wakil Presiden Bush, Dick Cheney, memperingatkan bahwa al-Qaeda ingin “membangkitkan kembali Khilafah.” Sebelum mengundurkan diri, Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld juga mengatakan kepada para staff Pentagon bahwa tujuan ekstremis adalah “membangun Khilafah” melalui destabilisasi “rezim Muslim arus utama yang moderat” (banyak di antara rezim tersebut yang digulingkan oleh revolusi yang meletus di seluruh kawasan).

Tak diragukan lagi, keberadaan Khilafah di tengah-tengah umat Islam adalah suatu hal yang mutlak dibutuhkan. Oleh sebab itulah, seruan penegakkannya terus-menerus digaungkan. Sebuah seruan yang pada awalnya diremehkan, hingga menarik minat berbagai kalangan untuk mengkaji dan meneliti gagasannya.

Seiring dengan meningkatnya penerimaan dan antusiasme masyarakat atas gagasan ini, maka meningkat pula tekanan yang terus menerus dilancarkan oleh musuh-musuh Islam demi menghambat kebangkitannya.

Kita pun teringat, dengan perjuangan Rasulullah selama dakwahnya yang penuh cacian, rintangan, bahkan hinaan. Kita pun teringat, bahwa hal tersebut justru semakin membuat banyak pihak penasaran dengan kebenaran Islam. Dan hingga kita pun melihat, bagaimana dakwah Islam telah memberikan pengaruh yang luar biasa besar kepada peradaban umat manusia.

Sumber :

Al-Rasheed, Madawi, Carool Kersten dan Marat Shterin (eds.). Demystifying The Caliphate: Historical Memory And Contemporary Contexts. New York: Oxford University Press, 2015.

Hassan, Mona. Longing For The Lost Caliphate: A Transregional History. New Jersey: Princeton University Press, 2017.

Kramer, Martin. Islam Assembled: The Advent of the Muslim Congresses. New York: Columbia University Press, 1985.

Pankhrust, Reza. The Inevitable Caliphate?: A History Of The Struggle For Global Islamic Union, 1924 To The Present. New York: Oxford University Press, 2013

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *