Bagaimana Sosok Ibunda Para Ulama? Review Buku: Ibunda Para Ulama

Share the idea

“Jangan hanya bercerita tentang kecerdasan Imam Syafi’i, kealiman Sufyan Ats-Tsauri, kezuhudan Hasan Al-Bashri, dan kesabaran Anas bin Malik, tapi bacalah… Bagaimana ibunda mereka”

Saya sebenarnya tidak begitu suka dengan kalimat motivasi semacam ini, “Saya akan menuntut ilmu karena anak saya kelak membutuhkan ibu yang cerdas.” Alasannya, tidak semua perempuan menjadi ibu dan ilmu hakikatnya untuk diamalkan bukan untuk ‘diwariskan’ kepada anak kelak. Tidak ada yang tahu apa yang akan datang lebih dulu, karunia anak apa karunia kematian? Awalnya buku Ibunda Para Ulama ini tidak termasuk tema-tema buku yang saya gemari.

Namun kemudian kebodohan saya langsung terjawabkan oleh penulis. Muqaddimah buku tersebut sangat menggugah dan membuka mata saya untuk semakin mempelajari pentingnya peran ibu dalam membangun generasi. Bukan sekadar dengan kalimat-kalimat motivasi manis namun juga disertai dalil-dalil naqli yang menyertainya. Motivasi yang disuguhkan bukan sekedar karya manusia, melainkan sabda Nabi yang diriwayatkan oleh berbagai hadits. Tak lupa pula nasihat para sahabat sebagai generasi terbaik mengenai pentingnya menjadi ibu berkualitas.

Salah satu bagian favorit dalam buku ini adalah ketika seorang ayah mengeluh kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab mengenai sikap anaknya yang durhaka. Hal mengejutkan justru keluar dari lisan sang anak ketika ia dimarahi oleh Umar,

“Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, ayahku tak pernah melakukan satupun dari tiga hal tersebut (hak anak terhadap orang tuanya). Ia tidak memilih calon ibu yang baik bagiku. Ibuku adalah hamba sahaya buruk berkulit hitam yang dibelinya dari pasar seharga dua dirham, lalu malamnya ia gauli hingga ia hamil mengandungku. Setelah aku lahir pun ayah menamaiku Ju’al (orang yang berkulit hitam dan jelek), dan ia tak pernah mengajariku menghafal Al Qur’an walau satu ayat!”

Akhirnya Umar membentak sang ayah karena ia telah mendurhakai anaknya terlebih dahulu sebelum anaknya mendurhakainya. Riwayat ini cukup terkenal meski penulis menyatakan belum menemui asal usulnya. Penulis pun memberi catatan bahwa meski secara ilmiah tidak bisa diyakini bahwa hal tersebut merupakan ucapan Umar, maknanya tetap sahih jika dikorelasikan dengan dalil lainnya.

Buku ini kemudian menceritakan kisah-kisah ibunda ulama salaf dimulai dengan ibunda para sahabat seperti Anas bin Malik dan Urwah bin Zubair, dilanjutkan dengan kisah ibunda para tabi’in seperti Hasan Al Bashri lalu dilanjut ke generasi seterusnya hingga kepada ibunda Imam Asy Syafi’i, Imam Malik bin Anas, Sufyan Ats Tsauri dan lain sebagainya. Setelah mengisahkan ibunda ulama salaf, penulis pun mengisahkan ibunda-ibunda ulama masa kini seperti Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.

 Ibunda-ibunda yang diceritakan pun tak selalu ibunda kandung asli para ulama. Ada pula ibu susu Hasan Al Bashri yang merupakan Ummul Mukminin Ummu Salamah dan nenek Umar bin Abdul Aziz yang tak lain merupakan menantu dari Umar bin Al Khatthab.

Dari semua ibunda para ulama, dapat ditarik satu benang merah sebagai persamaan di antara para orang tua yang mulia. Meski memiliki latar belakang yang berbeda-beda, namun kesemuanya merupakan sosok muslimah saleh dan bertakwa yang dapat menularkan kesalehan mereka kepada anak-anaknya.

Maka, benarlah firman Allah dalam QS Al A’raf ayat 58,

“Tanah yang baik itu, tanamannya akan tumbuh subur dengan seizin Allah, sedang tanah yang tandus, maka tanamannya akan tumbuh merana.”

Hal ini sejalan dengan nasihat Utsman bin Affan, bahwa sesungguhnya orang yang hendak menikah itu ibarat orang yang hendak menyemai benih. Maka, hendaklah ia memerhatikan di mana ia akan menyemainya. Meski pun Rasulullah membolehkan lelaki untuk memilih istri berdasarkan rupa, harta, maupun asal usulnya, tetaplah seorang istri saleh yang taat beragama lebih utama karena darinya akan melahirkan keturunan yang berbakti lagi bertakwa.

Akhir kata, teringat sabda Nabi dalam hadits riwayat Ahmad, bahwa Rasulullah pernah bertanya kepada para sahabatnya,

“Tahukah engkau siapa orang yang mandul?” Para sahabat menjawab, “Orang yang mandul adalah orang yang tidak memiliki anak.” Lalu Rasulullah menjawab, “Orang yang mandul ialah yang banyak anak tetapi anak-anaknya tidak memberikan manfaat kepadanya sesudah ia meninggal dunia.”

Kemandulan mungkin salah satu hal yang ditakuti oleh para pasangan di dunia ini. Namun sesungguhnya yang lebih menakutkan lagi adalah, ketika ia melahirkan banyak anak tapi hakikatnya anak tersebut tidak memberi manfaat di hari akhir karena kesalahan ibu dan bapaknya dalam mendidik buah hatinya. Oleh karena itu, buku ini sangat bermanfaat bagi para pembacanya, baik yang belum maupun yang sudah memiliki anak, sebagai sebuah motivasi untuk menjadi orang tua yang dapat menghasilkan generasi pejuang Islam yang saleh dan berkualitas layaknya para ulama. Wallahu a’lam.[]

Rincian Buku:

Judul Buku: Ibunda Para Ulama

Penulis: Dr. Sufyan bin Fuad Baswedan, MA.

Penerbit: Pustaka Al Inabah

Cetakan: 2019/302 halaman

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *